Hay, siapa yang suka baca cerpen.. Hha.. Ini saya mau bagi cerita yang saya buat. Sebenrnya udah lama sih, tapi belum menemukan endingnya.. Bingung lanjutannya.. Haha.. Saya juga sebenernya ga tau harus ngasih judul cerita ini apa.. Tapi ya akhirnya ngasih "PENCARIAN".. So, ini cerpen pertama saya yang di publish (Seinget saya). Please be nice.. wkwk.. Kritik dan saran kalaumau juga boleh, sangat di butuhkan.. :))
PENCARIAN
Story by Ayisaurus
Story by Ayisaurus
Aku
berjalan meyusuri terowongan gelap ini bersama temanku, Tama. Kami berdua di
dampingi oleh seorang wanita, aku tak tahu namanya. Aku sama sekali tidak bisa
melihat apapun di dalam terowongan ini. Sebelumnya kami membawa dua buah
senter, namun alat itu mati sebelum kami keluar dari tempat ini. Beruntung kami
bertemu wanita ini. Awalnya aku takut, mengapa seorang wanita ada di dalam
terowongan gelap ini. Tapi ia memberikan kami bantuan. Sepertinya ia bisa
melihat dalam kegelapan atau apa, aku tak tahu.
“Apa kau percaya dengan hantu?”
Wanita itu membuka pembicaraan. Tapi
aku pikir itu adalah topik yang sangat tidak wajar untuk di bicarakan dalam
kondisi ini. Hal itu membuatku berpikir aneh-aneh. Apakah wanita ini hantu?
“Apa kau pernah melihat hantu?” ia
bertanya lagi.
“Belum,
aku tidak pernah melihatnya. Aku harap tidak akan.” Jawabku. Suaraku agak
bergetar. Aku menggosok-gosokan tangan ke leher bagian belakang, pembicaraan
ini membuatku merinding.
“Tenanglah,
aku bukan hantu. Kalian tidak perlu takut. Hanya saja jarang sekali ada orang
melewati tempat ini.” Wanita itu tertawa.
“Maaf,”
aku merasa tidak enak padanya, “tapi, mengapa kau bisa ada di tempat gelap
seperti ini. Dan sepertinya kau begitu tahu dengan tempat ini. apakah kau bisa
melihat dalam kegelapan.”
“Tempat
ini membuatku nyaman. Aku suka kegelapan. Dan, ya, anggap saja aku bisa melihat
dalam kegelapan.” Jawabnya.
“Keren.”
Temanku akhirnya berbicara. Walaupun itu bukan hal yang penting.
“Apa
tujuanmu harus masuk ke tempat ini.” Tanya wanita itu.
“Aku
mencari seseorang. Ia sudah lama menghilang. Aku mendapat kabar bahwa ia berada
di hutan yang ada di ujung terowongan ini. Entah kabar itu benar atau tidak,
aku harus memeriksanya.” Aku mencoba menjelaskan tujuanku.
“Seorang
perempuan? Kau pasti sangat menyayanginya.” Ujarnya.
Aku
tidak menjawabnya. Namun mendengar ia mengatakan itu membuatku tersenyum.
“Kau
tersenyum.” Ia menggodaku kemudian tertawa. Dia bisa tahu aku tersenyum.
Sedangkan aku, berjalan saja harus berpegangan pada dinding. Sesekali aku
tersandung.
“Jadi,
dia memang perempuan, ya?”
“Ya,
dia kekasihnya.” Tama ikut menggodaku.
“Hentikan,
Tama.” Pintaku pada Tama. Mereka berdua tertawa. Untung saja di tempat ini
gelap, jika tidak, mungkin wajahku yang memerah sudah terlihat.
“Ngomong-ngomong,
apakah masih jauh?” Tama bertanya. Sepertinya ia mulai kelelahan. Kita memang
sudah cukup jauh berjalan.
“Bersabarlah,
sebentar lagi. Kita tidak bisa cepat sampai karena kalian berjalan dengan
lambat.”
Tidak
lama setelah itu aku melihat cahaya. Aku sudah cukup dekat dengan jalan keluar.
Aku mempercepat langkah ku. Cahaya mulai menyentuh tubuhku dan aku mulai
berlari keluar. Tama mengikutiku berlari.
“Akhirnyaa!”
ujar Tama, “aku lelah sekali berjalan disana. Nona, terimakasih,” ia membalikan
badanya. Aku pun mengikutinya. Namun kami terdiam sejenak karena wanita itu
tidak ada di belakang kami.
“Nona,
kau masih ada disana?” aku mendekat lagi ke terowongan.
“Ya,
aku disini? Pergilah, cari temanmu! Aku harap kalian dapat bertemu lagi,”
ujarnya sambil sedikit mengeluarkan tubuhnya, “maaf aku hanya bisa mengantar
kalian sampai sini. Aku tidak terlalu terbiasa dengan sinar matahari.”
Aku
kaget melihat sosoknya. Ia begitu cantik. Namun wajahnya pucat dan dua taring
panjang akan terlihat saat ia berbicara. Tingginya kira-kira sejajar dengan
dadaku.
“Kau—
vampire?” Tama pun terlihat kaget.
“Kenapa?
Kau kaget karena ditolong oleh seorang vampire?”
“Ah—“
aku tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja, aku benar-benar kaget. Karena
dari yang aku tahu, manusia adalah mangsa mereka, “maaf, jujur saja aku kaget.
Aku pikir vampire memakan manusia.”
“Ya,
ya, aku juga dengar tentang rumor itu,” wanita itu tertawa lagi, “tenanglah,
makanan kami itu buah. Memang, kami terkadang meminum darah, tapi itu darah
hewan. Jadi anggap saja kalian tidak memenuhi kualifikasi.” Ia menjelaskan
sambil tersenyum geli.
“Itu
melegakan,” aku merasa lega, “sekali lagi, kami ucapkan terimakasih.”
“Hei,
apa kau akan terbakar jika terkena sinar matahari?” Tanya Tama.
“Tidak,
bodoh!! Kami hanya suka kegelapan. Sudah, aku akan kembali. Kalian segerelah
pergi. Bukannya ada seseorang yang harus kau temukan? Semoga berhasil!”
“Ya,
kau benar. Tapi sebelum itu, aku Raka, dan ini Tama.” Aku memperkenalkan diri.
“Namamu?”
“Apa
itu penting?” ia bertanya dan memandangku. Aku hanya balas memandangnya.
“Baiklah, aku Sarah, mereka memanggilku Sa.”
“Sa?”
ujar Tama, “baiklah, terimakasih sudah membantu kami melewati terowongan ini.
Senang bertemu kau disini, wanita kelelawar.”
Sarah
tertawa. Sekali lagi kami berpamitan. Kemudian ia menghilang di kegelapan. Kami
pun membalikan badan dan melanjutkan perjalanan.
Ujung
terowongan yang telah kami lewati tidak mengarahkan langsung pada hutan yang
ingin kami tuju. Malah kami berada di padang rumput yang luas. Tapi aku sudah
bisa melihat hutan yang mengelilingi padang rumput ini. Aku tidak tahu harus
mengarah kemana, jadi setelah kami keluar, kami hanya berjalan terus kedepan. Tama
pun tidak bisa menentukan arahnya. Karena kemanapun kita bergerak, hutan adalah
ujungnya.
Kami beristirahat sejenak di tengah
padang rumput. Sekedar duduk dan meminum air. Tama memakan bekal makanannya.
Sesekali aku makan bekal yang Tama makan. Meskipun aku sudah menempuh
perjalanan jauh, aku tidak begitu lapar. Mungkin lelah, tapi tidak lapar.
Duum!
Tiba-tiba tanah berdebum. Tentu aku
kaget. Selang beberapa detik, tanah berdebum kembali. Aku mencoba untuk
berdiri, tapi agak sulit akibat getaran pada tanah. Pohon-pohon terlihat
bergerak dan terlihat burung-burung berterbangan. Sesuatu mulai terlihat dari
kejauhan. Aku segera meminta Tama untuk berkemas. Kami mulai berlari menuju
sebuah jembatan.
Sesosok
raksasa kini dengan jelas terlihat. Tubuh yang gemuk dengan kepala yang tak
berambut, mata lebarnya terlihat bergerak melirik kesana kemari, hidungnya yang
besar, rahang bawahnya lebih maju dengan dua gigi taring menonjol ke atas. Ia
menggunakan pakaian kulit, sepertinya itu kulit beberapa rusa yang disatukan
agar dapat menutupi pinggangnya hingga lutut. Palu besar yang terbuat dari batu
berada di tangan kanannya. Tangan kirinya menyapu pepohonan agar ia bisa
berjalan. Aku sudah pernah mendengar tentang para raksasa. Tapi baru kali ini
aku melihatnya secara langsung.
Kami
hampir sampai ke jembatan. Tapi sepertinya raksasa itu berhasil melihat kami
sebelum kami sampai. Terlihat dari ia berjalan berbelok kearah kami.
“Sepertinya
ia melihat kita.” Ucapku panik.
“Kita
tidak mungkin bisa mencapai hutan dengan selamat jika ia mengejar kita.
Melawannya pun tak akan mungkin. Kita harus bersembunyi.”
“Bawah
jembatan!” aku menunjuk kearah jurang.
Tama
tidak menolak. Ya, disaat seperti ini, tidak ada pilihan lain yang bisa dia
ambil selain menuruni jembatan. Kami berhenti di pinggir jurang itu. Aku
mencoba mencari jalan yang bisa membawaku turun. Aku harus cepat karena raksasa
itu semakin mendekat.
“Disana!”
Tama berhasil menemukan jalan. Bukan jalan yang aman, tapi lebih baik dari pada
menjadi korban raksasa itu.
Aku
menurunkan tubuhku mengikuti Tama. Ia sibuk mencari pijakan sedangkan aku sibuk
memperhatikan si badan besar mendekat. Aku memaksanya untuk cepat. Satu dua
kali lompatan, aku sampai pada tanah yang menjorok keluar. Tanah ini cukup luas
untuk tempat kami berpijak. Aku pikir aku sudah cukup jauh. Raksasa itu tidak
bisa menggapaiku.
Raksasa
itu mulai terlihat dari bawah. Ia berlutut sambil memandang ke jurang mencari
aku dan temanku. Aku menempelkan badan ke tebing. Mencoba agar tidak terlihat
olehnya. Kemudian ia lebih merendahkan badannya. Mendengus kemudian menggeram.
Tidak lama kemudian ia berdiri dan menghilang. Langkah kakinya terdengar
menjauh tapi kemudian menghilang dengan cepat.
“Dia
pergi?” Tama bertanya.
“Aku
yakin tidak. Mari kita tunggu.” Aku tak yakin ia benar-benar menyerah begitu
saja setelah gagal menangkap kami.
“Tidak,
dia sudah pergi.” Tama melepaskan badannya dari tebing, “Aku akan
memeriksanya.”
“Hei,
langkah kakinya menghilang terlalu cepat. Aku yakin dia menunggu.” Aku melarangnya.
Tama
memaksa untuk memeriksanya dan memintaku untuk menunggu. Ia mendaki tebing
dengan hati-hati. Perlahan-lahan. Hingga tanganya berhasil menggapai ujung
tebing.
Tiba-tiba
tanah kembali bergetar dan berdebum. Namun dengan tempo yang lebih cepat. Aku kembali
panik, aku tahu raksasa itu tidak menyerah begitu saja. Dan Tama ada di atas,
dekat dengan makhluk itu.
“Tama!!”
Aku berteriak memanggilnya.
“Sial,
dia dekat! Aku melihatnya!” Ujarnya panik sambil berusaha turun dengan cepat.
Geraman
makhluk itu terdengar dekat. Ia mulai terlihat dari tempatku berdiri. Merendahkan
badannya dengan cepat dan mengayunkan tangannya untuk meraih Tama. Sial, Tama masih
dekat dengannya.
“Tetaplah
mencarinya! Jangan kejar aku!” Tama berteriak, “kau pasti—.” Ucapannya terhenti
setelah tangan raksasa itu menghantam tubuhnya. Aku melihat Tama tak sadarkan
diri. Tangan besar itu mencengkram tubuh Tama dan mengangkatnya. Kemudian
menghilang dari pandanganku.
Aku
terdiam menatap keatas. Kedua lututku mulai terasa lemas. Tama tak sadarkan
diri dan menghilang tepat di depan kedua mataku. Dan aku tidak bisa melakukan
apa-apa. Aku menjatuhkan diri di atas lututku. Tanganku masih bergetar dan aku
ingin sekali menangis. Aku duduk dan sandarkan diriku pada tebing. Menahan tangisan
dan menyalahkan diri. Seharusnya aku mengejarnya. Tidak, seharusnya aku
menahannya agar tidak naik. Tidak! seharusnya aku melakukan perjalanan ini
sendirian.
“Sial!!
Sial!! Sial!! Maafkan aku!!”.
(Bersambung..)
Jeng! Jeng! Jeng! Bagaimana dengan nasib Tama? Apa yang akan Raka lakukan? Sebenernya saya juga belum sampe jauh nerusinnya.. Haha.. Well, makasih udah baca. :))
Komentar
Posting Komentar